FTI-01 SISTEM AKTIF 0411-455696 ID

News

Prof. Hambali Thalib: UMI Hidupkan Masjid Umar bin Khattab sebagai Pusat Ibadah, Ilmu, dan Pembinaan Karakter Mahasiswa

Published
9 Oktober 2026
Author
Andi Agung Alashri
Reading time
8 min
views
13
Prof. Hambali Thalib: UMI Hidupkan Masjid Umar bin Khattab sebagai Pusat Ibadah, Ilmu, dan Pembinaan Karakter Mahasiswa
Ma­kas­sar, fti.umi.ac.id - Uni­ver­si­tas Muslim In­do­ne­sia (UMI) kem­bali me­ne­guh­kan jati di­ri­nya se­ba­gai Kampus Ilmu dan Ibadah. Ikh­tiar itu tidak ber­henti pada pem­ba­ngu­nan fisik, tetapi ber­lan­jut pada upaya meng­hi­dup­kan masjid se­ba­gai pusat ibadah, pem­be­la­ja­ran, dan pem­bi­naan ka­rak­ter se­lu­ruh si­vi­tas aka­de­mika.

Ko­mit­men ter­se­but di­wu­jud­kan me­la­lui Dzikir dan Doa Ber­sama Ke­luarga Besar Si­vi­tas Aka­de­mika UMI yang di­rang­kai­kan dengan Pe­res­mian Re­no­vasi Masjid Umar bin Khat­tab Kampus 2 UMI, Jumat (9/10/2026). Ke­gia­tan yang ber­lang­sung di masjid ter­se­but dia­wali salat Duha ber­ja­maah, lalu di­lan­jut­kan dzikir dan doa ber­sama yang di­pim­pin Ustaz Dr. H. Ahmad Wakka, Lc., M.A. dan Ustaz H. Jufri M., Lc., M.A.

Dalam doa yang di­pan­jat­kan, jamaah me­mo­hon agar UMI men­jadi kampus yang di­ber­kahi, sumber ke­bai­kan, serta menara ilmu dan dakwah di negeri ini. Bacaan Al-Fa­ti­hah juga di­ha­diah­kan kepada para pen­diri Ya­ya­san Wakaf UMI serta para pim­pi­nan ter­da­hulu yang telah ber­pu­lang se­te­lah me­le­tak­kan fon­dasi per­jua­ngan UMI.

Ke­gia­tan ini di­ha­diri Ketua Pem­bina Ya­ya­san Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Man­syur Ramly, S.E., M.Si., Pe­lak­sana Tugas (Plt.) Ketua Pe­ngu­rus Ya­ya­san Wakaf UMI, Prof. Ir. H. Lam­bang Basri Said, M.T., Ph.D., serta Rektor UMI, Prof. Dr. H. Ham­bali Thalib, S.H., M.H., ber­sama para wakil rektor. Turut hadir ang­gota senat aka­de­mik, pim­pi­nan fa­kul­tas, lem­baga, rumah sakit, dan unit di ling­ku­ngan Ya­ya­san Wakaf UMI, para guru besar, dosen, tenaga ke­pen­di­di­kan, mitra per­ban­kan, serta pe­ngu­rus lem­baga ke­ma­ha­sis­waan.

Selain men­jadi ruang ber­mu­na­jat ber­sama, ke­gia­tan ini men­jadi mo­men­tum ber­se­ja­rah bagi UMI. Masjid yang telah me­la­yani si­vi­tas aka­de­mika selama lebih dari empat dekade itu kini resmi hadir dengan wajah yang lebih modern, nyaman, dan fu­tu­ris­tik.

Dalam sam­bu­tan­nya, Rektor UMI Prof. Ham­bali Thalib me­nyam­pai­kan bahwa Masjid Umar bin Khat­tab telah men­jadi bagian dari per­ja­la­nan UMI sejak 1984 dan di­gu­na­kan oleh ma­ha­siswa, dosen, serta ke­luarga besar UMI selama lebih dari 40 tahun. Kini fa­si­li­tas­nya di­se­suai­kan dengan ke­bu­tu­han ma­ha­siswa Ge­ne­rasi Z, se­ka­li­gus di­siap­kan untuk me­nyam­but Ge­ne­rasi Alfa.

“Masjid yang bagus jangan hanya ramai ketika di­res­mi­kan, tetapi se­te­lah itu men­jadi sepi. Allah Sub­ha­nahu wa Ta'ala me­ngi­ngat­kan kita dalam Surah At-Taubah ayat 18 bahwa yang me­mak­mur­kan masjid Allah adalah orang-orang yang be­ri­man kepada-Nya. Ar­ti­nya, tugas kita bukan hanya mem­ba­ngun masjid, tetapi juga me­mak­mur­kan­nya,” te­gas­nya.

Untuk itu, ia me­minta Wakil Rektor IV mem­beri per­ha­tian khusus agar masjid aktif sejak pagi hingga magrib. Selain untuk salat ber­ja­maah, masjid di­ha­rap­kan men­jadi tempat pem­be­la­ja­ran mata kuliah kea­ga­maan, kajian keil­muan, dis­kusi ma­ha­siswa, pem­bi­naan Al-Qur'an, dan ke­gia­tan dakwah, dengan pe­nge­lo­laan yang mem­buat ma­ha­siswa merasa aman, nyaman, dan senang ber­ke­gia­tan.

“Kita ingin dari masjid ini lahir calon pen­dak­wah yang me­ma­hami Islam rah­ma­tan lil alamin, se­ka­li­gus pro­fe­sio­nal muslim yang be­rilmu, be­rakh­lak, dan ber­man­faat bagi ma­sya­ra­kat,” ujar­nya.

Prof. Ham­bali juga men­ja­di­kan pe­res­mian ini se­ba­gai mo­men­tum mem­per­baiki budaya ibadah dan budaya kerja. Ia telah me­ngins­truk­si­kan Wakil Rektor IV untuk mens­tan­dar­kan pe­lak­sa­naan dzikir dan doa di se­lu­ruh ling­ku­ngan Ya­ya­san Wakaf UMI, mulai dari Kampus 1, Kampus 2, Pas­ca­sar­jana, Menara UMI, Rumah Sakit Ibnu Sina, hingga ka­wa­san Lan­raki. Po­la­nya me­ngacu pada pem­bi­naan di Pe­san­tren Ma­ha­siswa Darul Mukh­li­sin Padang Lampe, yakni dzikir dan doa ber­sama se­ti­dak­nya se­te­lah salat Duha, Zuhur, dan Asar ber­ja­maah.

“Jangan baru se­le­sai salam lang­sung ber­diri dan me­ning­gal­kan masjid. Luang­kan be­be­rapa menit untuk berd­zi­kir dan berdoa. Ini bukan se­suatu yang sulit, tetapi mem­bu­tuh­kan ke­sa­da­ran dan ke­di­si­pli­nan,” pe­san­nya.

Ke­sa­da­ran yang sama, lan­jut­nya, di­bu­tuh­kan dalam men­ja­lan­kan pro­gram ab­sensi ber­ba­sis ibadah dan la­ra­ngan gra­ti­fi­kasi yang wajib di­lak­sa­na­kan secara kon­sis­ten oleh se­lu­ruh pim­pi­nan, dosen, dan tenaga ke­pen­di­di­kan. “Kami ingin orang UMI di­ke­nal bukan hanya karena il­mu­nya, tetapi juga karena ke­ju­ju­ran, ke­di­si­pli­nan, dan cara me­la­ya­ni­nya,” ka­ta­nya.

Di ha­da­pan jamaah, Prof. Ham­bali me­la­por­kan bahwa pe­ne­ri­maan ma­ha­siswa baru se­mes­ter ganjil Tahun Aka­de­mik 2026/2027 telah ram­pung, sei­ring me­ning­kat­nya ke­per­ca­yaan ma­sya­ra­kat kepada UMI. Kini UMI mem­buka pe­ne­ri­maan se­mes­ter genap untuk se­lu­ruh pro­gram ma­gis­ter dan doktor di Pas­ca­sar­jana, pro­gram pro­fesi in­si­nyur, apo­te­ker, dokter gigi, akun­tan, ners, dan guru agama, serta jalur Re­kog­nisi Pem­be­la­ja­ran Lampau (RPL) di semua jen­jang.

Ia pun me­minta se­lu­ruh pim­pi­nan fa­kul­tas, pro­gram studi, lem­baga, biro, dan unit mem­be­ri­kan pe­la­ya­nan ter­baik kepada ma­ha­siswa, ter­ma­suk tidak mem­biar­kan urusan mereka ber­pin­dah dari satu meja ke meja lain. “Jangan mem­buat ma­ha­siswa merasa sedang me­minta per­to­lo­ngan untuk se­suatu yang se­be­nar­nya men­jadi haknya. Pe­la­ya­nan yang baik tidak selalu mem­bu­tuh­kan ang­ga­ran besar. Kadang cukup dengan ke­ra­ma­han, ke­pas­tian, ke­ce­pa­tan, dan ke­mauan untuk mem­bantu,” tu­tur­nya.

Se­ma­ngat pe­la­ya­nan itu juga akan segera di­buk­ti­kan. Pada 22 sampai 25 Ok­to­ber 2026, UMI di­per­caya Ke­men­te­rian Pen­di­di­kan Tinggi, Sains, dan Tek­no­logi men­jadi tuan rumah ABDIDAYA 2026 yang akan dii­kuti 120 tim dari per­gu­ruan tinggi negeri dan swasta se-In­do­ne­sia. Tar­get­nya, sukses se­ba­gai pe­nye­leng­gara se­ka­li­gus sukses dalam pres­tasi.

“Kita ingin mereka pulang bukan hanya me­ngi­ngat ke­gia­tan ABDIDAYA, tetapi juga me­ngi­ngat ba­gai­mana UMI me­ne­rima dan me­la­yani mereka. Itulah harga diri dan re­pu­tasi kampus yang harus kita jaga ber­sama,” ung­kap­nya.

Prof. Ham­bali turut mem­ba­gi­kan kabar mem­bang­ga­kan. Dua pro­gram studi di Fa­kul­tas Eko­nomi dan Bisnis kem­bali meraih akre­di­tasi Unggul, me­nyu­sul dua pro­gram studi di Fa­kul­tas Ilmu Kom­pu­ter dan tiga pro­gram studi di Fa­kul­tas Agama Islam yang naik pe­ring­kat men­jadi Unggul. Me­nu­rut­nya, ca­paian ini adalah hasil kerja dan doa ber­sama yang harus dijaga, ter­ma­suk untuk mem­per­ta­han­kan akre­di­tasi ins­ti­tusi pada rea­kre­di­tasi tahun 2028.

Me­nu­tup sam­bu­tan­nya, ia me­ngi­ngat­kan bahwa masjid ini me­nyan­dang nama Umar bin Khat­tab, sa­ha­bat Ra­su­lul­lah yang di­ke­nal karena ke­be­ra­nian, kea­di­lan, ke­te­ga­san, dan tang­gung ja­wab­nya. Nilai-nilai itu, me­nu­rut­nya, juga di­bu­tuh­kan dalam be­kerja: tegas men­ja­lan­kan aturan, adil dalam me­la­yani, jujur me­me­gang amanah, dan tetap peduli kepada sesama.

“Mas­jid­nya kita bangun dengan baik, iba­dah­nya kita ter­tib­kan, pe­la­ya­nan­nya kita per­baiki, dan man­faat­nya harus di­ra­sa­kan ma­ha­siswa, se­lu­ruh si­vi­tas, dan ma­sya­ra­kat pada umum­nya. Itulah makna kampus ilmu dan ibadah yang ingin terus kita kuat­kan,” pung­kas­nya, se­be­lum me­lun­cur­kan secara resmi hasil re­no­vasi masjid dengan ucapan bas­ma­lah.

Pe­res­mian ke­mu­dian di­ku­kuh­kan dengan pe­nan­da­ta­nga­nan pra­sasti oleh Ketua Pem­bina Ya­ya­san Wakaf UMI, Prof. Man­syur Ramly, di­sak­si­kan Rektor, para wakil rektor, serta ja­ja­ran pe­ngu­rus dan pe­nga­was Ya­ya­san Wakaf UMI. Ia me­nu­tur­kan, amanah itu mung­kin di­be­ri­kan ke­pa­da­nya karena sejak awal ia sangat ber­ha­rap masjid ini lebih indah dan lebih nyaman da­ri­pada ruang pim­pi­nan.

Dalam na­si­hat­nya, Prof. Man­syur me­ne­gas­kan bahwa masjid adalah tempat suci yang layak men­da­pat peng­hor­ma­tan ter­tinggi. “Se­baik­nya tidak ada tempat yang lebih nyaman dan lebih indah da­ri­pada masjid. Jangan rua­ngan pim­pi­nan atau rua­ngan dosen yang lebih indah dan lebih nyaman, lalu masjid kita ter­beng­ka­lai,” ujar­nya.

Ia me­minta se­lu­ruh rua­ngan masjid, ter­ma­suk di lantai atas dan bagian be­la­kang, di­man­faat­kan untuk be­ra­gam ak­ti­vi­tas sejak pagi hingga malam, bukan hanya pada waktu salat. “Kalau mau datang ke UMI, maka inilah masjid, tempat kita yang paling indah, paling nyaman, dan paling khu­syuk untuk be­ri­ba­dah,” ka­ta­nya.

Prof. Man­syur juga ber­te­rima kasih kepada semua pihak yang ter­li­bat dalam re­no­vasi. “Sebaik-baik kita me­nger­ja­kan se­suatu, pasti ada saja ke­ku­ra­ngan­nya. Tapi itu me­nun­juk­kan ada ke­sem­pa­tan bagi ge­ne­rasi be­ri­kut­nya untuk me­nyem­pur­na­kan dan mem­pe­ro­leh pahala dari situ,” tu­tur­nya.

Ia me­nye­but UMI terus tumbuh, baik dari sisi jumlah maupun mutu, bahkan kini men­jadi per­gu­ruan tinggi swasta dengan jumlah pro­fe­sor ter­ba­nyak di In­do­ne­sia. Namun, ia me­ngi­ngat­kan, se­ma­kin tinggi pohon, se­ma­kin ken­cang pula angin yang me­ner­pa­nya. Karena itu, ia me­nga­jak se­lu­ruh si­vi­tas aka­de­mika mem­per­kuat ke­ber­sa­maan, terus me­ngem­bang­kan krea­ti­vi­tas, dan mulai me­lang­kah menuju akre­di­tasi in­ter­na­sio­nal.

Di akhir na­si­hat­nya, Prof. Man­syur me­ngi­ngat­kan agar setiap in­te­raksi di UMI di­lan­dasi amanah, keikh­la­san, dan ke­ju­ju­ran, sebab nila se­ti­tik dapat me­ru­sak susu se­be­la­nga.

Se­men­tara itu, Plt. Ketua Pe­ngu­rus Ya­ya­san Wakaf UMI, Prof. Lam­bang Basri Said, ber­te­rima kasih kepada pa­ni­tia pem­ba­ngu­nan, para tukang, do­na­tur, dan se­lu­ruh pihak yang telah men­cu­rah­kan tenaga, waktu, pi­ki­ran, maupun harta ben­da­nya. “Proses pem­ba­ngu­nan masjid ini tidak mung­kin ter­wu­jud tanpa ke­ber­sa­maan, tanpa gotong royong kita semua,” ujar­nya.

Ia me­ne­gas­kan bahwa pe­res­mian ini bukan akhir pe­ker­jaan, me­lain­kan awal dari tang­gung jawab ber­sama untuk me­mak­mur­kan masjid. Se­jum­lah bagian, se­perti taman dan ha­la­man, juga masih terus di­sem­pur­na­kan.

Masjid ini, lan­jut­nya, di­se­rah­kan kepada ma­sya­ra­kat kampus dengan tiga ha­ra­pan, yakni men­jadi pusat ibadah dan syiar Islam yang terus hidup, men­jadi tempat pem­bi­naan akhlak, pen­di­di­kan, dan si­la­tu­ra­him, serta mem­bawa ke­ber­ka­han bagi si­vi­tas aka­de­mika dan ling­ku­ngan se­ki­tar. Prof. Lam­bang juga me­ni­tip­kan tiga seruan: Mak­mur­kan, Ber­sih­kan, dan Wa­ris­kan.

Mak­mur­kan be­rarti meng­hi­dup­kan masjid dari pagi hingga se­le­pas salat Isya. Ber­sih­kan be­rarti men­jaga ke­ber­si­han se­ka­li­gus me­ra­wat se­lu­ruh in­fras­truk­tur­nya agar awet di­gu­na­kan. Wa­ris­kan be­rarti me­mas­ti­kan masjid ini ber­man­faat bukan hanya bagi ge­ne­rasi se­ka­rang, tetapi juga bagi ge­ne­rasi adik, anak, hingga cucu kelak.

“Semoga setiap batu, setiap semen, dan setiap rupiah yang di­ke­luar­kan untuk pem­ba­ngu­nan masjid ini di­ni­lai se­ba­gai amal jariah oleh Allah Sub­ha­nahu wa Ta'ala, dan pa­ha­la­nya terus me­nga­lir tanpa putus,” ha­rap­nya.

Rang­kaian acara juga diisi pe­nye­ra­han apre­siasi oleh Rektor UMI kepada kar­ya­wan yang me­ma­suki masa pur­na­bakti, di­sak­si­kan pim­pi­nan Ya­ya­san Wakaf UMI. Se­lan­jut­nya, Wakil Rektor III Bidang Pem­bi­naan Ke­ma­ha­sis­waan, Pres­tasi, dan Hu­bu­ngan Alumni, Prof. Dr. H. Kamal Hidjaz, S.H., M.H., me­nye­rah­kan peng­har­gaan kepada dosen pen­dam­ping dan ma­ha­siswa ber­pres­tasi dari ber­ba­gai fa­kul­tas.

Pres­tasi ter­se­but diraih di se­jum­lah ajang, antara lain Ke­wi­rau­sa­haan Ma­ha­siswa In­do­ne­sia (KMI) Expo ke-17 Tahun 2026, Ge­mas­tik 2026, Alaud­din Me­di­cal Com­pe­ti­tion ting­kat in­ter­na­sio­nal, kom­pe­tisi es­ports na­sio­nal, hingga pe­mi­li­han duta ting­kat Su­la­wesi Se­la­tan. Prof. Man­syur me­ni­lai ba­nyak­nya pe­ne­rima peng­har­gaan se­ba­gai tanda bahwa pem­bi­naan ke­ma­ha­sis­waan di UMI ber­ja­lan dengan baik.

Du­ku­ngan untuk masjid juga datang dari mitra per­ban­kan. Bank Sul­sel­bar Sya­riah me­nye­rah­kan infak berupa alat pe­nye­dot debu (vacuum clea­ner) untuk Masjid Umar bin Khat­tab, yang di­te­rima Kepala UPT Pen­di­di­kan Ka­rak­ter dan Dakwah UMI dan di­sak­si­kan Rektor UMI.

Se­ja­lan dengan trans­for­masi UMI menuju kampus yang se­ma­kin be­re­pu­tasi dan ber­dam­pak, wajah baru Masjid Umar bin Khat­tab di­ha­rap­kan men­jadi denyut ke­hi­du­pan kampus setiap hari, bukan hanya pada hari pe­res­mian­nya. Di si­ni­lah ibadah di­te­gak­kan, ilmu dikaji, dan ka­rak­ter ma­ha­siswa di­tempa.

Me­la­lui ke­gia­tan ini, UMI kem­bali me­nun­juk­kan bahwa ke­ma­juan sebuah kampus tidak hanya diukur dari me­gah­nya fa­si­li­tas, tetapi juga dari hi­dup­nya budaya ibadah, ke­ju­ju­ran dalam be­kerja, dan ke­tu­lu­san dalam me­la­yani.

Karena bagi UMI, mem­ba­ngun masjid bukan hanya ten­tang men­di­ri­kan ba­ngu­nan yang indah.

Mem­ba­ngun masjid adalah ten­tang meng­hi­dup­kan ruang tempat iman, ilmu, dan akhlak tumbuh ber­sama, lalu me­wa­ris­kan­nya kepada ge­ne­rasi be­ri­kut­nya. Uni­ver­si­tas Muslim In­do­ne­sia adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Per­jua­ngan dan Pe­ngab­dian, Kampus Be­re­pu­tasi dan Ber­dam­pak.

← All news