
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Dzikir dan Doa Bersama Keluarga Besar Sivitas Akademika UMI yang dirangkaikan dengan Peresmian Renovasi Masjid Umar bin Khattab Kampus 2 UMI, Jumat (9/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di masjid tersebut diawali salat Duha berjamaah, lalu dilanjutkan dzikir dan doa bersama yang dipimpin Ustaz Dr. H. Ahmad Wakka, Lc., M.A. dan Ustaz H. Jufri M., Lc., M.A.
Dalam doa yang dipanjatkan, jamaah memohon agar UMI menjadi kampus yang diberkahi, sumber kebaikan, serta menara ilmu dan dakwah di negeri ini. Bacaan Al-Fatihah juga dihadiahkan kepada para pendiri Yayasan Wakaf UMI serta para pimpinan terdahulu yang telah berpulang setelah meletakkan fondasi perjuangan UMI.
Kegiatan ini dihadiri Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, S.E., M.Si., Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Ir. H. Lambang Basri Said, M.T., Ph.D., serta Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., bersama para wakil rektor. Turut hadir anggota senat akademik, pimpinan fakultas, lembaga, rumah sakit, dan unit di lingkungan Yayasan Wakaf UMI, para guru besar, dosen, tenaga kependidikan, mitra perbankan, serta pengurus lembaga kemahasiswaan.
Selain menjadi ruang bermunajat bersama, kegiatan ini menjadi momentum bersejarah bagi UMI. Masjid yang telah melayani sivitas akademika selama lebih dari empat dekade itu kini resmi hadir dengan wajah yang lebih modern, nyaman, dan futuristik.
Dalam sambutannya, Rektor UMI Prof. Hambali Thalib menyampaikan bahwa Masjid Umar bin Khattab telah menjadi bagian dari perjalanan UMI sejak 1984 dan digunakan oleh mahasiswa, dosen, serta keluarga besar UMI selama lebih dari 40 tahun. Kini fasilitasnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa Generasi Z, sekaligus disiapkan untuk menyambut Generasi Alfa.
“Masjid yang bagus jangan hanya ramai ketika diresmikan, tetapi setelah itu menjadi sepi. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita dalam Surah At-Taubah ayat 18 bahwa yang memakmurkan masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Artinya, tugas kita bukan hanya membangun masjid, tetapi juga memakmurkannya,” tegasnya.
Untuk itu, ia meminta Wakil Rektor IV memberi perhatian khusus agar masjid aktif sejak pagi hingga magrib. Selain untuk salat berjamaah, masjid diharapkan menjadi tempat pembelajaran mata kuliah keagamaan, kajian keilmuan, diskusi mahasiswa, pembinaan Al-Qur'an, dan kegiatan dakwah, dengan pengelolaan yang membuat mahasiswa merasa aman, nyaman, dan senang berkegiatan.
“Kita ingin dari masjid ini lahir calon pendakwah yang memahami Islam rahmatan lil alamin, sekaligus profesional muslim yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Hambali juga menjadikan peresmian ini sebagai momentum memperbaiki budaya ibadah dan budaya kerja. Ia telah menginstruksikan Wakil Rektor IV untuk menstandarkan pelaksanaan dzikir dan doa di seluruh lingkungan Yayasan Wakaf UMI, mulai dari Kampus 1, Kampus 2, Pascasarjana, Menara UMI, Rumah Sakit Ibnu Sina, hingga kawasan Lanraki. Polanya mengacu pada pembinaan di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin Padang Lampe, yakni dzikir dan doa bersama setidaknya setelah salat Duha, Zuhur, dan Asar berjamaah.
“Jangan baru selesai salam langsung berdiri dan meninggalkan masjid. Luangkan beberapa menit untuk berdzikir dan berdoa. Ini bukan sesuatu yang sulit, tetapi membutuhkan kesadaran dan kedisiplinan,” pesannya.
Kesadaran yang sama, lanjutnya, dibutuhkan dalam menjalankan program absensi berbasis ibadah dan larangan gratifikasi yang wajib dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. “Kami ingin orang UMI dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena kejujuran, kedisiplinan, dan cara melayaninya,” katanya.
Di hadapan jamaah, Prof. Hambali melaporkan bahwa penerimaan mahasiswa baru semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027 telah rampung, seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada UMI. Kini UMI membuka penerimaan semester genap untuk seluruh program magister dan doktor di Pascasarjana, program profesi insinyur, apoteker, dokter gigi, akuntan, ners, dan guru agama, serta jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di semua jenjang.
Ia pun meminta seluruh pimpinan fakultas, program studi, lembaga, biro, dan unit memberikan pelayanan terbaik kepada mahasiswa, termasuk tidak membiarkan urusan mereka berpindah dari satu meja ke meja lain. “Jangan membuat mahasiswa merasa sedang meminta pertolongan untuk sesuatu yang sebenarnya menjadi haknya. Pelayanan yang baik tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Kadang cukup dengan keramahan, kepastian, kecepatan, dan kemauan untuk membantu,” tuturnya.
Semangat pelayanan itu juga akan segera dibuktikan. Pada 22 sampai 25 Oktober 2026, UMI dipercaya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi tuan rumah ABDIDAYA 2026 yang akan diikuti 120 tim dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia. Targetnya, sukses sebagai penyelenggara sekaligus sukses dalam prestasi.
“Kita ingin mereka pulang bukan hanya mengingat kegiatan ABDIDAYA, tetapi juga mengingat bagaimana UMI menerima dan melayani mereka. Itulah harga diri dan reputasi kampus yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.
Prof. Hambali turut membagikan kabar membanggakan. Dua program studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali meraih akreditasi Unggul, menyusul dua program studi di Fakultas Ilmu Komputer dan tiga program studi di Fakultas Agama Islam yang naik peringkat menjadi Unggul. Menurutnya, capaian ini adalah hasil kerja dan doa bersama yang harus dijaga, termasuk untuk mempertahankan akreditasi institusi pada reakreditasi tahun 2028.
Menutup sambutannya, ia mengingatkan bahwa masjid ini menyandang nama Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah yang dikenal karena keberanian, keadilan, ketegasan, dan tanggung jawabnya. Nilai-nilai itu, menurutnya, juga dibutuhkan dalam bekerja: tegas menjalankan aturan, adil dalam melayani, jujur memegang amanah, dan tetap peduli kepada sesama.
“Masjidnya kita bangun dengan baik, ibadahnya kita tertibkan, pelayanannya kita perbaiki, dan manfaatnya harus dirasakan mahasiswa, seluruh sivitas, dan masyarakat pada umumnya. Itulah makna kampus ilmu dan ibadah yang ingin terus kita kuatkan,” pungkasnya, sebelum meluncurkan secara resmi hasil renovasi masjid dengan ucapan basmalah.
Peresmian kemudian dikukuhkan dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Mansyur Ramly, disaksikan Rektor, para wakil rektor, serta jajaran pengurus dan pengawas Yayasan Wakaf UMI. Ia menuturkan, amanah itu mungkin diberikan kepadanya karena sejak awal ia sangat berharap masjid ini lebih indah dan lebih nyaman daripada ruang pimpinan.
Dalam nasihatnya, Prof. Mansyur menegaskan bahwa masjid adalah tempat suci yang layak mendapat penghormatan tertinggi. “Sebaiknya tidak ada tempat yang lebih nyaman dan lebih indah daripada masjid. Jangan ruangan pimpinan atau ruangan dosen yang lebih indah dan lebih nyaman, lalu masjid kita terbengkalai,” ujarnya.
Ia meminta seluruh ruangan masjid, termasuk di lantai atas dan bagian belakang, dimanfaatkan untuk beragam aktivitas sejak pagi hingga malam, bukan hanya pada waktu salat. “Kalau mau datang ke UMI, maka inilah masjid, tempat kita yang paling indah, paling nyaman, dan paling khusyuk untuk beribadah,” katanya.
Prof. Mansyur juga berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam renovasi. “Sebaik-baik kita mengerjakan sesuatu, pasti ada saja kekurangannya. Tapi itu menunjukkan ada kesempatan bagi generasi berikutnya untuk menyempurnakan dan memperoleh pahala dari situ,” tuturnya.
Ia menyebut UMI terus tumbuh, baik dari sisi jumlah maupun mutu, bahkan kini menjadi perguruan tinggi swasta dengan jumlah profesor terbanyak di Indonesia. Namun, ia mengingatkan, semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika memperkuat kebersamaan, terus mengembangkan kreativitas, dan mulai melangkah menuju akreditasi internasional.
Di akhir nasihatnya, Prof. Mansyur mengingatkan agar setiap interaksi di UMI dilandasi amanah, keikhlasan, dan kejujuran, sebab nila setitik dapat merusak susu sebelanga.
Sementara itu, Plt. Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Lambang Basri Said, berterima kasih kepada panitia pembangunan, para tukang, donatur, dan seluruh pihak yang telah mencurahkan tenaga, waktu, pikiran, maupun harta bendanya. “Proses pembangunan masjid ini tidak mungkin terwujud tanpa kebersamaan, tanpa gotong royong kita semua,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peresmian ini bukan akhir pekerjaan, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk memakmurkan masjid. Sejumlah bagian, seperti taman dan halaman, juga masih terus disempurnakan.
Masjid ini, lanjutnya, diserahkan kepada masyarakat kampus dengan tiga harapan, yakni menjadi pusat ibadah dan syiar Islam yang terus hidup, menjadi tempat pembinaan akhlak, pendidikan, dan silaturahim, serta membawa keberkahan bagi sivitas akademika dan lingkungan sekitar. Prof. Lambang juga menitipkan tiga seruan: Makmurkan, Bersihkan, dan Wariskan.
Makmurkan berarti menghidupkan masjid dari pagi hingga selepas salat Isya. Bersihkan berarti menjaga kebersihan sekaligus merawat seluruh infrastrukturnya agar awet digunakan. Wariskan berarti memastikan masjid ini bermanfaat bukan hanya bagi generasi sekarang, tetapi juga bagi generasi adik, anak, hingga cucu kelak.
“Semoga setiap batu, setiap semen, dan setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pembangunan masjid ini dinilai sebagai amal jariah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan pahalanya terus mengalir tanpa putus,” harapnya.
Rangkaian acara juga diisi penyerahan apresiasi oleh Rektor UMI kepada karyawan yang memasuki masa purnabakti, disaksikan pimpinan Yayasan Wakaf UMI. Selanjutnya, Wakil Rektor III Bidang Pembinaan Kemahasiswaan, Prestasi, dan Hubungan Alumni, Prof. Dr. H. Kamal Hidjaz, S.H., M.H., menyerahkan penghargaan kepada dosen pendamping dan mahasiswa berprestasi dari berbagai fakultas.
Prestasi tersebut diraih di sejumlah ajang, antara lain Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo ke-17 Tahun 2026, Gemastik 2026, Alauddin Medical Competition tingkat internasional, kompetisi esports nasional, hingga pemilihan duta tingkat Sulawesi Selatan. Prof. Mansyur menilai banyaknya penerima penghargaan sebagai tanda bahwa pembinaan kemahasiswaan di UMI berjalan dengan baik.
Dukungan untuk masjid juga datang dari mitra perbankan. Bank Sulselbar Syariah menyerahkan infak berupa alat penyedot debu (vacuum cleaner) untuk Masjid Umar bin Khattab, yang diterima Kepala UPT Pendidikan Karakter dan Dakwah UMI dan disaksikan Rektor UMI.
Sejalan dengan transformasi UMI menuju kampus yang semakin bereputasi dan berdampak, wajah baru Masjid Umar bin Khattab diharapkan menjadi denyut kehidupan kampus setiap hari, bukan hanya pada hari peresmiannya. Di sinilah ibadah ditegakkan, ilmu dikaji, dan karakter mahasiswa ditempa.
Melalui kegiatan ini, UMI kembali menunjukkan bahwa kemajuan sebuah kampus tidak hanya diukur dari megahnya fasilitas, tetapi juga dari hidupnya budaya ibadah, kejujuran dalam bekerja, dan ketulusan dalam melayani.
Karena bagi UMI, membangun masjid bukan hanya tentang mendirikan bangunan yang indah.
Membangun masjid adalah tentang menghidupkan ruang tempat iman, ilmu, dan akhlak tumbuh bersama, lalu mewariskannya kepada generasi berikutnya. Universitas Muslim Indonesia adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak.