
Program ini berjalan selama tujuh pekan, mulai 9 Oktober sampai 21 November 2026. Pesertanya berasal dari tiga program studi, yaitu Teknik Industri sebanyak 171 mahasiswa, Teknik Kimia 92 mahasiswa, dan Teknik Pertambangan 358 mahasiswa. Seluruh rangkaian dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu orientasi, pembentukan diri dan budaya keselamatan, serta pengembangan prestasi.
Suasana pembukaan kental dengan nuansa budaya Sulawesi Selatan. Acara diawali penampilan angngaru dan tari padduppa sebagai tradisi penyambutan khas Bugis Makassar, lalu dilanjutkan pemutaran video dokumenter, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars UMI, dan Mars FTI UMI.
Setelah laporan ketua panitia, sambutan disampaikan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTI UMI, Sugi Zatullah, dan Ketua Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FTI UMI, Rijal Muharram. Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III, lalu rangkaian pembukaan ditutup dengan doa bersama.
Dalam sambutannya, Ir. Firman Nullah menegaskan bahwa program ini dirancang lebih dari sekadar pengenalan kampus. Menurutnya, tujuh pekan ke depan menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk menemukan arah, membentuk karakter, dan menumbuhkan kebiasaan mengutamakan keselamatan sejak awal.
“Kami ingin setiap mahasiswa baru pulang dari program ini dengan membawa rancangan masa depan yang ia susun sendiri, karakter yang ia pilih dan nyatakan, kebiasaan mengutamakan keselamatan, serta tim prestasi bersama kakak tingkatnya,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan kerja harus tertanam sebagai budaya, bukan sekadar materi kuliah. “Seorang insinyur tidak hanya dinilai dari karyanya, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap keselamatan dirinya dan orang lain. Karena itu, budaya keselamatan kami tanamkan sejak hari pertama,” tambahnya.
Untuk menjaga kesinambungan, peserta dibagi ke dalam 55 kelompok lintas program studi. Setiap kelompok didampingi fasilitator yang sama dari pekan pertama hingga pekan ketujuh, sementara komitmen setiap mahasiswa dikawal oleh ketua kelompok dan dosen pembimbing akademik hingga setelah program berakhir.
Sesi talk show pertama menghadirkan Pemimpin Redaksi Tribun-Timur.com, Thamzil Thahir, dengan materi bertajuk “Akal Imitasi di Postindustrial Era”. Ia membuka sesinya dengan uji manusia versus mesin, menyodorkan dua contoh tulisan untuk melatih kepekaan peserta membedakan karya manusia dan hasil mesin.
Menurut Thamzil, tantangan generasi hari ini sudah bergeser. “Kini bukan tentang mencari jawaban, melainkan memilih pertanyaan,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa menjadi tua itu pasti, sedangkan menjadi dewasa adalah pilihan, termasuk dalam memilih cara menghabiskan waktu setiap hari di tengah tingginya screen time.
Untuk melatih kemampuan bertanya, ia membekali peserta dengan tujuh kata tanya, yaitu apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana, dan berapa. Ia juga menyoroti batas kemampuan kecerdasan buatan yang ia sebut akal imitasi. AI dinilainya jago menjawab pertanyaan terbuka seperti apa, mengapa, dan bagaimana, tetapi kerap “minta maaf” ketika dihadapkan pada pertanyaan tertutup yang menuntut ketepatan fakta, seperti kapan, di mana, siapa, dan berapa.
Di akhir sesi, Thamzil mengajak peserta menakar posisi dirinya masing-masing. “Seseorang menjadi pemimpin bukan karena status sosial, jabatan, atau modal besar, melainkan karena kemauan untuk berubah dan berinovasi,” tegasnya.
Usai istirahat, salat, dan makan siang, sesi talk show kedua menghadirkan Ir. Ichwanul Fajri, S.T., IPP., dengan materi “Wawasan Pertambangan dan Industri Smelter: Perkembangan Indonesia dan Persiapan Mahasiswa Memasuki Dunia Kerja”. Ia mengawali paparannya dengan menunjukkan betapa dekatnya hasil tambang dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tembaga pada kabel listrik, nikel pada baja tahan karat dan baterai, hingga aluminium pada sarana transportasi dan konstruksi.
Ichwanul kemudian menguraikan siklus pertambangan dari eksplorasi hingga pascatambang, serta rantai nilai mineral dari bijih menjadi produk logam. Ia menjelaskan bagaimana hilirisasi mendorong tumbuhnya fasilitas pengolahan di dalam negeri, termasuk di Sulawesi dan Maluku Utara yang kini menjadi kawasan penting industri nikel, seperti Sorowako, Morowali, Pomalaa, dan Weda Bay. Industri ini juga makin bergantung pada data, dari drone, sensor, dan sistem manajemen armada di tambang hingga sistem kendali proses di smelter. Senada dengan pemateri sebelumnya, ia menegaskan bahwa AI tetap memerlukan data yang baik, validasi, dan pengawasan tenaga ahli.
Di balik peluang itu, Ichwanul menekankan bahwa kinerja industri selalu dinilai bersama keselamatan dan pengelolaan dampaknya. Tambang menghadapi risiko alat bergerak, lereng, dan energi tersimpan, sedangkan smelter berhadapan dengan logam cair, panas, gas, dan tekanan tinggi. Karena itu, izin kerja, isolasi energi, prosedur darurat, dan alat pelindung diri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan.
Kepada mahasiswa baru, ia memetakan peluang kerja yang terbuka, mulai dari geologi, perencanaan, dan produksi di tambang, proses dan metalurgi di smelter, hingga bidang lintas disiplin seperti K3, lingkungan, dan data. Kompetensi yang perlu dibuktikan, menurutnya, bukan hanya dasar teknis, tetapi juga kemampuan mengolah data, komunikasi teknis, kerja tim, bahasa Inggris fungsional, serta integritas dan disiplin terhadap prosedur.
“Gali ilmu, kuatkan mental, dan jaga integritas. Perjalananmu hari ini adalah awal menjadi insinyur pertambangan yang membawa manfaat bagi bangsa,” pesannya menutup sesi.
Hari pertama ditutup dengan pengenalan Badan Legislatif Mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa FTI UMI, dilanjutkan sesi berbagi pengalaman bersama pengurus kedua lembaga. Rangkaian INBLUE 2026 berlanjut pada hari kedua dengan penampilan bakat peserta, pembacaan sumpah mahasiswa, talk show bersama Rijal Djamal, dan pengenalan kampus.
Sebagai bekal menuju pekan berikutnya, setiap peserta mendapat tugas menuliskan kisah masa lalunya dengan tulisan tangan. Tugas ini menjadi pijakan sesi Engineer Yourself pada Sabtu (17/10/2026), sebelum peserta memasuki pekan karakter baku dan experiential learning, lalu Safety Culture Recognition yang berisi simulasi alat pemadam api ringan (APAR) dan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Tiga pekan terakhir difokuskan pada pengembangan prestasi melalui sosialisasi PKM dan kompetisi, coaching internal per program studi, serta seleksi dan klusterisasi tim. Pada tahap akhir ini, mahasiswa baru akan bergabung dengan kakak tingkat angkatan 2023 dan 2024 untuk membentuk tim PKM dan kompetisi lintas angkatan.
Melalui rangkaian ini, FTI UMI menegaskan komitmennya menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara karakter, sadar keselamatan, dan terbiasa berkolaborasi lintas disiplin sejak semester pertama.
Karena bagi FTI UMI, menyambut mahasiswa baru bukan sekadar mengenalkan kampus.
Menyambut mahasiswa baru adalah langkah pertama menyiapkan insinyur yang tahu arah masa depannya, kuat karakternya, peduli keselamatan, dan siap berprestasi bersama. Universitas Muslim Indonesia adalah Kampus Ilmu dan Ibadah, Kampus Perjuangan dan Pengabdian, Kampus Bereputasi dan Berdampak.