Dekan hingga Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta Pilih Kuliah Profesi Insinyur di FTI UMI

Pengukuhan insinyur lulusan Program Profesi Insinyur pada PSPPI FTI UMI angkatan IX, Kamis (8/4/2021).

Sebanyak 201 peserta Program Profesi Insinyur pada Program Studi Program Profesi Insinyur ( PSPPI), Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia ( FTI UMI ) disumpah sebagai insinyur oleh Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia ( PII ), Dr Ir Heru Dewanto ST MScEng IPU ASEAN Eng.

Prosesi penyumpahan berlangsung secara virtual dan offline dari Hotel Myko, Jl Boulevard, Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatam ( Sulsel ), Kamis (8/4/2021).
Di antara 201 nama pada angkatan IX, terdapat nama 2 rektor.

Keduanya adalah Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Prof Dr Ir Fatah Sulaiman MT dan Rektor Institut Teknologi Indonesia atau ITI Dr Ir Marzan Aziz Iskandar IPU.

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa merupakan perguruan tinggi negeri di Banten, sedangkan ITI merupakan perguruan tinggi swasta dibentuk PII melalui Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia.
Kampus ITI juga berada di Banten, tepatnya di Kota Tangerang Selatan.

Fatah Sulaiman dan Marzan Aziz Iskandar bukan rektor pertama dan kedua menempuh pendidikan Program Profesi Insinyur di PSPPI FTI UMI.

Sebelumnya ada Rektor Universitas Negeri Gorontalo Dr Ir Eduart Wolok IPM pada angkatan VII, Rektor Universitas Tadulako Prof Dr Ir Mahfudz MP, mantan Rektor Universitas Tadulako Prof Dr Ir H Muhammad Basir Cyio SE MS.

Selain rektor, ada pula Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhamadiyah Aceh Dr Ir Hafnidar A Rani ST MM IPU ASEAN Eng, Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti Prof Dr Ir Indra Surjati MT IPM, Wakil Rektor I Universitas Kristen Maranatha Ir Olga Catherina Pattipawaej MS PhD.

Mereka memilih mengikuti Program Profesi Insinyur di kampus FTI UMI sebab perguruan tinggi dipimpinnya belum menjadi penyelenggara Program Profesi Insinyur.

Dikutip dari laman resmi PII pii.or.id, saat ini perguruan tinggi yang mendapat izin menyelenggarakan Program Profesi Insinyur di Indonesia, yakni Institut Teknologi Bandung. Universitas Bina Nusantara, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Indonesia, Universitas Mulawarman, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Islam Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.
Universitas Sebelas Maret, Universitas Jambi, Universitas Diponegoro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Udayana, Universitas Jember, Universitas Sumatera Utara, Universitas Kristen Petra Surabaya, Universitas Lampung, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Andalas.
Berdasarkan Pasal 7 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, bagi seseorang yang ingin menggunakan gelar profesi insinyur harus lulus dari Program Profesi Insinyur yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

UU Keinsinyuran juga mengamanahkan bahwa hanya insinyur teregistrasi yang berhak untuk menyelenggarakan praktek keinsinyuran dengan segala kewajiban yang diatur dalam undang undang ini.

PSPPI FTI UMI hingga kini telah meluluskan 1.200 insinyur dalam 9 angkatan.

PII, kata Heru Dewanto, menyampaikan apresiasi kepada FTI UMI karena secara konsisten telah menjalankan Program Profesi Insinyur sejak tahun 2017.

“Program Profesi Insinyur di Indonesia baru ada 2017 dan FTI UMI adalah Program Studi Program Profesi Insinyur pertama yang melahirkan insinyur sejak 2017 lalu,” kata Dekan FTI UMI, Dr Ir Zakir Sabara H Wata ST MT IPM ASEAN Eng.

Seluruh insinyur lulusan PSPPI FTI UMI juga telah memegang Surat Tanda Registrasi Insinyur ( STRI ).
STRI adalah bukti tertulis yang diterbitkan PII kepada insinyur yang telah memiliki sertifikat kompetensi insinyur dan diakui secara hukum untuk melakukan praktik keinsinyuran.

Untuk mendapatkan STRI, seorang insinyur harus terlebih dahulu lulus uji komptensi dan memiliki sertifikat kompetensi insinyur.

Insinyur yang melakukan kegiatan keinsinyuran tanpa memiliki STRI akan dikenakan sanksi administratif mulai dari peringatan tertulis sampai dengan pencabutan STRI.(Tribun Timur)